Makalah
Perkembangan Kerajaan ISLAM di Sumatra
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan
kehadirat Allah yang Maha Kuasa, yang telah memberikan kita karunia serta
nikmatnya hingga pada saat ini kita masih bisa melaksanakan proses belajar di
sekolah ini. Shalawat beriringan salam, mari kita sampaikan ke Rasul Allah SAW
yang telah membawa tangan umatnya dari alam kegelapan hingga menuju alam yang
terang dengan iman dan taqwa.
Apabila
nantinya dalam penyusunan makalah kami ini ada kekurangan dan ketidak
sempurnaan saya terlebih dahulu memohon maaf.
Desember
2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL
KATA
PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang Masalah
1.2. Rumusan
Masalah
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Keadaan
masyarakat sumatra sebelum masuknya islam
2.2. Masuk
dan berkembangnya islam di sumatera utara
2.3 masuk
dan berkembangnya islam di sumatera selatan
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
3.2 Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Berbicara
mengenai kapan dan siapa yang membawa islam
di Sumatra selatan, bisa dikatakan sebuah pertanyaan yang di anggap
sacral. Why? Penulis berasumsi bahwasanya, sampai detik ini
belum ada bukti yang otentik akan masuknya islam di nusantara terkhusus di
Sumatra-selatan. Penulis berasumsi bahwa bukti-bukti dari sejarawan semisal,
Hamka, Snowk, dan lain-lain hanya meneliti berdasarkan bukti peninggalan saja
dan kemudian di musawarohkan atau diseminarkan oleh berbagai tokoh-tokoh
sejarawan, semisal di medan pada tahun 1963 yang kemudian dari berbagai hasil
seminar dipergunakan sebagai documenter hasil penelitian.
Apakah
para sejarawan itu salah dalam meneliti? Saya kiratidak. Sebab, masuk
dan berkembang islam di bumi nusantara ini tidak meninggalkan kitab,
atau manuskrip-manuskrip dan hanya meninggalkan Nisan,
dan sebuah cultur. Sudah sangat bisa dipastikan bahwasanya.
Sejarawan pun lumayan kesulitan untuk menafsirkan atau meneliti secara otentik.
Bagitu pula dengan sebuah nisan, bagi penulis, Nisan pun perlu sekiranya
mendapat perhatian secara khusus. Alat yang mampu digunakan untuk meneliti
barang kali di antaranya metode dealektika dengan orang-orang terdahulu.
Nah,
dari berbagai jalan yang digunakan sejarawan, perlu sekiranya penulis
melampirkan hasil kajian pustaka, yang insa allah akan menghantarkan kita pada
kebenaran yang otentik. Kendati kebenaran itu sulit untuk diraba, terlebih
dilihat. Melihat kawasan kerajaan Sriwijaya yang bisa dikatakan tempat yang
sangat Strategis, baik dalam aspek hubungan antar pulau, berdangan, dan tempat
yang digunakan para politikus untuk menghasilkan pelbagai rempah-rempah yang
dimiliki oleh bumi nusantra. Dan kita dapat melihat bahwa kekuasaan kerajaan
sriwijaya juga amat luas.
1.2. Rumusan
Masalah
Dalam
hal penulisan rumusan masalah penulis pun mengalami kegalauan. Penulis galau
harus dari mana memulai, mengingat begitu sulit mencari refrensi. Bahkan
penulis pun sempat berasumsi bagaimana sebenarnya keotentikan documenter
risalah masuk dan berkembangnya islam di Sumatra selatan. Hingga pada akhirnya
penulis mencoba mendiskripsikan keadaan subektif dari pelbagai refrensi yang
ada. Namun, sekali lagi penulis hanya menyajikan sebuah pendiskripsiaan bukan
sebuah kesimpulan. Adapun penulis mencoba mengsignifikasikan menjadi beberapa
rumuan masalah:
1. Sejarah
masuknya islam di bumi Sumatra Selatan
Sebenarnya masih banyak
probelematika yang bergelut di hati penulis, penulis sendiri sebenarnya
mengiginkan akan sistematisanya materi yang hendak di sajikan kepada ibu dosen
dan temen-temen sekalian. Sebab, disini penulis sendiri berasal dari bumi
Sumatra-Selatan. Akan tetapi, Sangat ironis bukan? Ketika penulis sendiri tidak
paham sepahamnya terkait dengan eksistensinya sendiri. Namun, itulah kami
selaku pemateri, kami berusaha untuk menyajikikan yang terbaik. Fa insa
allah
BAB II
PEMBAHASAN
Bukti tertulis mengenai adanya
masyarakat Islam di Indonesia tidak ditemukan sampai dengan abad 4 H (10 M).
Yang dimaksud dengan bukti tertulis adalah bangunan-bangunan masjid, makam,
ataupun lainnya.
Hal ini memberikan kesimpulan bahwa
pada abad 1—4 H merupakan fase pertama proses kedatangan Islam di Indonesia
umumnya dan Sumatera khususnya, dengan kehadiran para pedagang muslim yang
singgah di berbagai pelabuhan di Sumatera. Dan hal ini dapat diketahui
berdasarkan sumber-sumber asing.
Dari literature Arab, dapat
diketahui bahwa kapal-kapal dagang Arab sudah mulai berlayar ke wilayah Asia
Tenggara sejak permulaan abad ke– 7 M. Sehingga, kita dapat berasumsi, mungkin
dalam kurun waktu abad 1—4 H terdapat hubungan pernikahan anatara para pedagang
atau masyarakat muslim asing dengan penduduk setempat sehingga menjadikan
mereka masuk Islam baik sebagai istri ataupun keluarganya.
Sedangkan bukti-bukti tertulis
adanya masyarakat Islam di Indonesia khususnya Sumatera, baru ditemukan setelah
abad ke– 10 M. yaitu dengan ditemukannya makam seorang wanita bernama Tuhar
Amisuri di Barus, dan makam Malik as Shaleh yang ditemukan di Meunahasah
Beringin kabupaten Aceh Utara pada abad ke– 13. M.
2.1 KEADAAN MASYARAKAT SUMATRA
SEBELUM MASUKNYA ISLAM
Sumatera Utara memiiki letak
geografis yang strategis. Hal ini membuat Sumatera Utara menjadi pelabuhan yang
ramai, menjadi tempat persinggahan saudagar-saudagar muslim Arab dan menjadi salah
satu pusat perniagaan pada masa dahulu.
Sebelum masuk agama Islam ke
Sumatera Utara, masyarakat setempat telah menganut agama Hindu. Hal ini
dibuktikan dengan kabar yang menyebutkan bahwasanya Sultan Malik As-Shaleh,
Sultan Samudera Pasai pertama, menganut agama Hindu sebelum akhirnya diIslamkan
oleh Syekh Ismael.
Sama halnya dengan Sumatera Utara,
Sumatera Selatan juga memiliki letak geografis yang strategis. Sehingga
pelabuhan di Sumatera Selatan merupakan pelabuhan yang ramai dan menjadi salah
satu pusat perniagaan pada masa dahulu. Oleh karena itu, otomatis banyak
saudagar-saudagar muslim yang singgah ke pelabuhan ini.
Sebelum masuknya Islam, Sumatera
Selatan telah berdiri kerajaan Sriwijaya yang bercorak Buddha. Kerajaan ini
memiliki kekuatan maritim yang luar biasa. Karena kerajaannya bercorak Buddha,
maka secara tidak langsung sebagian besar masyarakatnya menganut Agama Buddha.
Letak yang strategis menyebabkan
interaksi dengan budaya asing, yang mau tidak mau harus dihadapi. Hal ini
membuat secara tidak langsung banyak budaya asing yang masuk ke Sriwijaya dan
mempengaruhi kehidupan penduduknya dan sistem pemerintahannya. Termasuk
masuknya Islam.
Bangsa Indonesia yang sejak zaman
nenek moyang terkenal akan sikap tidak menutup diri, dan sangat menghormati
perbedaan keyakinan beragama, menimbulkan kemungkinan besar ajaran agama yang
berbeda dapat hidup secara damai. Hal-hal ini yang membuat Islam dapat masuk
dan menyebar dengan damai di Sumatera selatan khususnya dan Pulau Sumatera
umumnya.
2.2. MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM
DI SUMATERA UTARA
Sumatera Utara merupakan salah satu
pusat perniagaan yang terpenting di Nusantara pada abad ke- 7 M. Sehingga
Sumatera Utara menjadi salah satu tempat berkumpul dan singgahnya para
saudagar-saudagar Arab Islam. Dengan demikian dakwah Islamiyah berpeluang untuk
bergerak dan berkembang dengan cepat di kawasan ini.
Hal ini berdasarkan catatan tua Cina
yang menyebutkan adanya sebuah kerajaan di utara Sumatera namanya Ta
Shi telah membuat hubungan diplomatic dengan kerajaan Cina. Ta Shi menurut
istilah Cina adalah istilah yang diberikan kepada orang-orang Islam. Dan
letaknya kerajaan Ta Shi itu lima hari berlayar dari Chop’o (bagian yang lebih
lebar dari malaka) di seberang selat Malaka. Ini menunjukkan Ta Shi dalam
catatan tua Cina itu ialah Ta Shi Sumatera Utara, bukan Ta Shi Arab. Karena, Ta
Shi Arab tidak mungkin di capai dalam waktu lima hari.
Islam semakin berkembang di Sumatera
Utara setelah semakin ramai pedagang – pedagang muslim yang datang ke Nusantara,
karena Laut Merah telah menjadi Laut Islam sejak armada rome dihancurkan oleh
armada muslim di Laut Iskandariyah.
Disamping itu , terdapat satu factor
besar yang menyebabkan para pedagang Islam Arab memilih Sumatera
Utara pada akhir abad ke- 7 M. Yaitu karena terhalangnya pelayaran mereka
melalui Selat Malaka karena disekat oleh tentara laut/Sriwijaya kerajaan Budha
sebagai pembalasan atas serangan tentara Islam atas kerajaan Hindu di Sind.
Maka terpaksalah mereka melalui Sumatera utara dengan pesisir barat Sumatera
kemudian masuk selat Sunda melalui Singapura menuju Kantun, Cina.
v KERAJAAN PERLAK
Kata Perlak berasal dari nama pohon
kayu besar yaitu “Kayei Peureulak” (Kayu Perlak). Kayu ini sangat baik
digunakan untuk bahan dasar pembuatan perahu kapal, sehingga banyak dibeli oleh
perusahaan-perusahaan perahu kapal. Dan di Perlak banyak tumbuh jenis pepohonan
ini, sehingga disebut negeri Perlak (Perlak).
Perlak merupakan salah satu
pelabuhan perdagangan yang maju dan aman pada abad ke- 8 M. sehingga menjadi
tempat persinggahan kapal-kapal pedagang muslim. Dengan demikian, secara tidak
langsung berkembanglah masyarakat Islam di daerah ini. Factor utamanya yaitu
karena sebab pernikahan antara saudagar-saudagar muslim dengan
perempuan-perempuan pribumi. Sehingga menyebabkan lahir keturunan-keturunan
yang beragama Islam.
Hal ini semakin berkembang sehingga
berdirinya kerajaan Islam Perlak yaitu pada hari selasa bulan muharram tahun
225 H (840 M). dan sultannya yang pertama adalah Syed Maulana Abdul Aziz Shah
yang bergelar Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah. Kemudian Bandar
Perlak diganti namanya menjadi Bandar Khalifah.[1][1][3]
Islam terus berkembang di Perlak,
dan hal ini terlihat jelas pada abad ke – 13 M. pada abad ini, perkembangan
Islam di Perlak melebihi dari daerah-daerah lain di Sumatera. Hal ini bersumber
pada riwayat Marco Polo yang tiba di Sumatera pada tahun 1292 M.
Ia mengatakan bahwa pada saat iu di Sumatera terbagi dalam delapan
kerajaan, yang semuanya menyembah berhala kecuali satu, itu kerajaan Perlak.
Kerajaan Perlak terus berdiri hingga
akhirnya bergabung dalam kerajaan Islam Samudera Pasai pada masa pemerintahan
Sultan Muhammad Malik Al-Dzahir (1289 – 1326 M)
v
KERAJAAN SAMUDERA PASAI
Kesultanan
Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah
kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di
sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia. Berdasarkan berita
Marcopolo (th 1292) dan Ibnu Batutah (abad 13). Pada tahun 1267 telah berdiri
kerajaan Islam diIndonesia, yaitu kerajaan
Samudra Pasai. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya Batu nisan makam Sultan
Malik Al Saleh (th 1297) Raja pertama Samudra Pasai.
Sejak abad ke-9 sampai
ke-11 M berita-berita pelayaran dan geografi Arab juga telah menambah
sumber-sumber sejarah. Berita-berita itu, antara lain dari Ibn Khurdazbih
(850),Ya’qubi (875-880), Ibnu Faqih (902), Ibnu Rusteh (903), Ishaq Ibn Iman
(lk.907), Muhammad Ibnu Zakariyya al-Razi, Abu Zaid dari sirat (lk. 916), Abu
Dulaf (lk.940), Mas’udi (943), dan Buzurg Ibn Syahriyar (awal abad
ke-10). (Soejono,R.P&Leirissa,R.Z,2008:22). Hal ini membuktikan bahwa
islamisasi telah ada sebelum kerajaan Samudra Pasai didirikan. Oleh karena itu,
sejak abad ke-7 dan ke-8 sampai abad ke-11 M di daerah pesisir selat Malaka dan
juga di Cina Selatan tumbuh
komunitas-komunitas muslim akibat islamisasi.
Proses Pembentukan awal
Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudra Pasai
berdiri sekitar abad 13 oleh Nazimuddin Al Kamil, seorang laksamana laut Mesir. Pada tahun 1238 M, ia
mendapat tugas merebut pelabuhan Kambayat di Gujarat yang dijadikan tempat
pemasaran barang-barang perdagangan dari timur. Nazimuddin al-Kamil juga
mendirikan satu kerajaan di Pulau Sumatera bagian utara.
Tujuan utamanya adalah untuk dapat menguasai hasil perdagangan rempah-rempah
dan lada. Beliau kemudian mengangkat Marah Silu menjadi Raja Pasai pertama
dengan gelar Sultan Malik Al Saleh (1285 – 1297).
Keberadaan kerajaan ini
juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya
Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri
ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal
pada tahun 1521. Makam Nahrasyiah Tri Ibnu Battutah, musafir Islam terkenal
asal Maroko, mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi
sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera sekitar tahun
1345 Masehi. Setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk
wilayah Myanmar), Battutah mendarat di sebuah tempat yang sangat subur.
Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang
emas. Ia semakin takjub karena ketika turun ke kota ia mendapati sebuah kota
besar yang sangat indah dengan dikelilingi dinding dan menara kayu.
Namun Berdasarkan
Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Marah Silu,
setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik
al-Nasser. Marah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut
dengan Semerlanga kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh,
ia wafat pada tahun 696 H atau 1297 M. Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun
Sulalatus Salatin nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua
kawasan yang berbeda, namun dalam catatan Tiongkok nama-nama tersebut tidak
dibedakan sama sekali. Sementara Marco Polo dalam lawatannya mencatat beberapa
daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatera waktu itu, dari
selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).
Pada pemerintahan
Sultan Malik Al Saleh masih belum terlihat tanda-tanda kejayaan yang
signifikan, namun pada pemerintahannya setidaknya kerajaan Samudra pasai
merupakan kerajaan yang besar dari wilayah Aceh sendiri. letak
kerajaan Samudra Pasai kurang lebih 15 Km disebelah timur Lhoukseumawe, Nangroe
Aceh. Diapit oleh sungai besar yaitu sungai Peusungan dan sungai Jambo
Aye, jelasnya Kerajaan Samudra Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulunya
berasal jauh ke pedalaman daratan tinggi Gayo Kab. Aceh Tengah. Letaknya
yang sangat strategis membuat Samudra pasai menjadi kerajaan yang besar dan
berkembang pesat pada zaman itu.
Pemerintahan Sultan
Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik
az-Zahir dari perkawinannya dengan Ganggang Sari putri Raja Perlak. Pada masa
pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah
diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu
kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Kemudian
sekitar tahun 1326 ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud
Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia
dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah
(Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut Mazhab
Syafi'i.
Dalam kisah
perjalanannya ke Pasai, Ibnu Battutah menggambarkan Sultan Malikul Zhahir
sebagai raja yang sangat saleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian
kepada fakir miskin. Meskipun ia telah menaklukkan banyak kerajaan, Malikul
Dhahir tidak pernah bersikap jemawa. Kerendahan hatinya itu ditunjukkan sang
raja saat menyambut rombongan Ibnu Battutah. Para tamunya dipersilakan duduk di
atas hamparan kain, sedangkan ia langsung duduk di tanah tanpa beralas apa-apa.
Selanjutnya pada masa
pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir putra Sultan Mahmud Malik az-Zahir,
datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 dan 1350, dan menyebabkan
Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan.
Pada awal abad ke-16
mungkin masa memuncaknya kerajaan Samudra Pasai sebagaimana diberitakan oleh
Tome Pires (1512-1515) tengah mengalami berbagai kemajuan dibidang politik
pemerintahan, di bidang keagamaan, terutama di bidang pertanian dan
perdagangan. (Soejono,R.P&Leirissa,R.Z,2008:23), adapun Pasai yang selalu
menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan lain, seperti Malaka yang saat
itu Malaka menjadi pusat perdagangan Dunia, yang diikuti pula pernikahan antara
raja-raja malaka dengan para putri Pasai (Gade Ismail, M.1997:28).
Tome Pires menceritakan
tentang hubungan antara Pasai dan Malaka,terutama pada masa pemerintahan Saquem
Darxa yang dapat disamakan dengan nama sultan Iskandar Syah raja kedua Malaka.
(Soejono,R.P&Leirissa,R.Z,2008:23).
Kemajuan kemajuan
Kerajaan Samudera Pasai Pada Masa Kejayaannya Sekitar Awal Abad ke 16 antara
lain:
1. Perdagangan
Yang merupakan perdagangan
internasional, Pasai mempunyai Bandar-bandar yang dapat menjadi persinggahan
para pedagang asing dan mereka juga membayar uang pajak untuk Pasai
2. Pelayaran
Sebagai kerajaan maritime, pastinya
Pasai mempunya keunggulan dalam bidang pelayaran dan nelayan. Maka dari itu
masyarakat Pasai, mayoritas ialah nelayan.
3. Perekonomian
Merupakan salah satu kemajuan Pasai dalm
meraih kejayaannya, dan perekonomian Pasai telah terbantu dengan adanya
perdagangan dan pelayaran, serta pajak dagang yang dikenakan bagi pedagang,
4. Hubungan internasional dan politik
Merupakan keterkaitan, yakni terjadi
pula politik pernikahan, yang dilakukan oleh sultannya.
Relasi dan Persaingan
Kesultanan Pasai
kembali bangkit dibawah pimpinan Sultan Zainal-Abidin Malik az-Zahir tahun
1383, dan memerintah sampai tahun 1405. Dalam kronik Cina ia juga dikenal
dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur.
Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya Sultanah
Nahrasiyah.
Armada Cheng Ho yang
memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut turut dalam tahun 1405,
1408 dan 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh para
pembantunya seperti Ma Huan dan Fei Xin. Secara geografis Kesultanan Pasai
dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah
selatan dan timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan
Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan,
Nakur dan Lide. Sedangkan jika terus ke arah barat berjumpa dengan kerajaan
Lambri (Lamuri) yang disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai.
Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.
Sekitar tahun 1434
Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat
di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai
untuk menyampaikan berita tersebut.
Pemerintahan
Lonceng Cakra Donya
Pusat pemerintahan
Kesultanan Pasai terletaknya antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan
Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara. Menurut ibn Batuthah yang menghabiskan
waktunya sekitar dua minggu di Pasai, menyebutkan bahwa kerajaan ini tidak
memiliki benteng pertahanan dari batu, namun telah memagari kotanya dengan
kayu, yang berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan
ini terdapat masjid, dan pasar serta dilalui oleh sungai tawar yang bermuara ke
laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora dan
mudah mengakibatkan kapal terbalik. Sehingga penamaan Lhokseumawe yang dapat
bermaksud teluk yang airnya berputar-putar kemungkinan berkaitan dengan ini.
Dalam struktur
pemerintahan terdapat istilah menteri, syahbandar dan kadi. Sementara anak-anak
sultan baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa
petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, dan
penguasanya juga bergelar sultan.
Pada masa pemerintahan
Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari
kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya yaitu
Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan
Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang tetap
berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir,
Lide (Kerajaan Pedir) disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara
itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, puncaknya
kerajaan ini menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.
Perekonomian
Tercatat, selama abad
13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di
wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Bersamaan
dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai
salah satu komoditas ekspor utama.
Saat itu Pasai
diperkirakan mengekspor lada sekitar 8.000- 10.000 bahara setiap tahunnya,
selain komoditas lain seperti sutra, kapur barus, dan emas yang didatangkan
dari daerah pedalaman. Bukan hanya perdagangan ekspor impor yang maju. Sebagai
bandar dagang yang maju, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang sebagai alat
pembayaran. Salah satunya yang terbuat dari emas dikenal sebagai uang dirham.
Hubungan dagang dengan
pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin.
Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada. Pedagang-pedagang Jawa mendapat
kedudukan yang istimewa di pelabuhan Samudera Pasai. Mereka dibebaskan dari
pembayaran cukai.
Pasai merupakan kota
dagang, mengandalkan lada sebagai komoditi andalannya, dalam catatan Ma Huan
disebutkan 100 kati lada dijual dengan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan
Kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai alat transaksi pada
masyarakatnya, mata uang ini disebut Deureuham (dirham) yang dibuat 70% emas
murni dengan berat 0.60 gram, diameter 10 mm, mutu 17 karat.
Sementara masyarakat
Pasai umumnya telah menanam padi di ladang, yang dipanen 2 kali setahun, serta
memilki sapi perah untuk menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya
memiliki tinggi rata-rata 2.5 meter yang disekat menjadi beberapa bilik, dengan
lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang yang disusun
dengan rotan, dan di atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan.
Agama dan Budaya
Kehidupan masyarakat
Samudera Pasai diwarnai oleh agama dan kebudayaan Islam. Pemerintahnya bersifat
Theokrasi (berdasarkan ajaran Islam) rakyatnya sebagian besar memeluk agama
Islam, walau pengaruh Hindu dan Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari
catatan Ma Huan dan Tomé Pires, telah membandingkan dan menyebutkan bahwa
sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi
pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan ini
memudahkan penerimaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat
oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana
diceritakan dalam Sulalatus Salatin.
Akhir pemerintahan
Menjelang masa-masa
akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang
mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai
meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut.
Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh
Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan
kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan
Kesultanan Aceh.
Daftar penguasa Pasai
Daftar Penguasa Samudera Pasai
Periode
|
Nama Sultan
atau Gelar
|
Catatan dan
peristiwa penting
|
1267 - 1297
|
Sultan Malik as-Saleh (Marah Silu)
|
Hikayat Raja-raja Pasai dan makam raja
|
1297 - 1326
|
Sultan Muhammad Malik az-Zahir
|
Koin emas telah mulai diperkenalkan
|
1326 - 1345
|
Sultan Mahmud Malik az-Zahir
|
Dikunjungi Ibnu Batutah
|
1345 - 1383
|
Sultan Ahmad Malik az-Zahir
|
Diserang Majapahit
|
1383 - 1405
|
Sultan Zainal 'Abidin Ra-Ubabdar
|
Dikunjungi Cheng Ho
|
1405 - 1412
|
Sultanah Nahrasiyah
|
Raja perempuan, (janda Sultan Pasai
sebelumnya)
|
1405 - 1412
|
Sultan Sallah ad-Din
|
Menikahi Sultanah Nahrasiyah
|
1412 - 1455
|
Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir
|
|
1455 - 1477
|
Sultan Mahmud Malik az-Zahir II
|
|
1477 - 1500
|
Sultan Zain al-Abidin ibn Mahmud Malik
az-Zahir II
Sultan Zain al-Abidin II |
|
1501 - 1513
|
Sultan Abd-Allah Malik az-Zahir
|
|
1513 - 1521
|
Sultan Zain al-Abidin III
|
Penaklukan oleh Portugal
|
v
KERAJAAN ACEH
a. Letak Kerajaan
Kerajaan Aceh berkembang
sebagai kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan
Iskandar Muda. Perkembangan pesat yang dicapai Kerajaan Aceh tidak lepas dari
letak kerajaannya yang strategis, yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan
dekat jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu. Ramainya
aktivitas pelayaran perdagangan melalui bandar – bandar perdagangan Kerajaan
Aceh, mempengaruhi perkembangan kehidupan Kerajaan Aceh dalam segala bidang
seperti politik, ekonomi, sosial, budaya.
b. Kehidupan Politik
Berdasarkan Bustanus salatin
( 1637 M ) karangan Naruddin Ar-Raniri yang berisi silsilah sultan – sultan
Aceh, dan berita – berita Eropa, Kerjaan Aceh telah berhasil membebaskan diri
dari Kerajaan Pedir. Raja – raja yang pernah memerintah di Kerajaan Aceh :
1. Sultan Ali Mughayat Syah
Adalah raja kerajaan Aceh yang pertama. Ia memerintah tahun 1514 – 1528 M.
Di bawah kekuasaannya, Kerjaan Aceh melakukn perluasan ke beberapa daerah yang
berada di daerah Daya dan Pasai. Bahkan melakukan serangan terhadap kedudukan
bangsa Portugis di Malaka dan juga menyerang Kerajaan Aru.
2. Sultan Salahuddin
Setelah Sultan Ali Mughayat Wafat, pemeintahan beralih kepada putranya yg
bergelar Sultan Salahuddin. Ia memerintah tahun 1528 – 1537 M, selama menduduki
tahta kerajaan ia tidak memperdulikan pemerintahaan kerajaannya. Keadaan
kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosostan yg tajam. Oelh karena itu,
Sultan Salahuddin digantiakan saudaranya yg bernama Alauddin Riayat Syah
al-Kahar.
3. Sultan Alaudin Riayat Syah
al-Kahar
Ia memerintah Aceh dari tahun 1537 – 1568 M. Ia melakukan berbagai bentuk
perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemeintahan Kerajaan Aceh.
Pada masa pemeintahannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasaan wilayah
kekuasaannya seperti melakukan serangan terhadap Kerajaan Malaka ( tetapi gagal
). Daerah Kerajaan Aru berhasil diduduki. Pada masa pemerintahaannya, kerajaan
Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan sering
terjadi.
4. Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607 – 16 36 M. Di
bawah pemerintahannya, Kerjaan Aceh mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh
menjadi kerjaan besar adn berkuasa atas perdagangan Islam, bahakn menjadi
bandar transito yg dapat menghubungkan dgn pedagang Islam di dunia barat.
Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Ace, Sultan Iskandar Muda meneruskan
perjuangan Aceh dgn menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung
Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan
menguasai daerah – daerah penghasil lada. Sultan Iskandar Muda juga menolak
permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian
barat. Selain itu, kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap daerah – daerah
seperti Aru, pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah
pemerintahannya Kerajaan aceh memiliki wilayah yang sangat luas.
Pada masa kekeuasaannya, terdapat 2 orang ahli tasawwuf yg terkenal di Ace,
yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-Syamsi.
Setelah Sultam iskandar Muda wafat tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh
menantunya, Sultan Iskandar Thani
5. Sultan Iskandar Thani.
Ia memerinatah Aceh tahun 1636 – 1641 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia
melanjutkan tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya,
muncul seorang ulama besar yg bernama Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku
sejarah Aceh berjudul Bustanu’ssalatin. Sebagai ulama besar, Nuruddin ar-Raniri
sangat di hormati oleh Sultan Iskandar Thani dan keluarganya serta oleh rakyat
Aceh. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, tahta kerjaan di pegang oleh
permaisurinya ( putri Sultan Iskandar Thani ) dgn gelar Putri Sri Alam
Permaisuri ( 1641-1675 M )..
6. Sultan Sri Alam (1575-1576).
7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8. Sultan Ala‘al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
15.Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
8. Sultan Ala‘al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
15.Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
c. Kehidupan Ekonomi
Dalam kejayaannya, perekonomian
Kerajaan Aceh bekembang pesat. Dearahnya yg subur banyak menghasilkan lada.
Kekuasaan Aceh atas daerah – daerah pantai timur dan barat Sumatera menambah
jumlah ekspor ladanya. Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung
Malaka menyebabkan bertambahnya badan ekspor penting timah dan lada.
Aceh dapat berkuasa atas Selat
Malaka yg merupakan jalan dagang
internasional. Selain bangsa Belanda dan Inggris, bangsa asing lainnya seperti
Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina, Jepang, juga berdagang dgn Aceh. Barang
– barang yg di ekspor Aceh seperti beras, lada ( dari Minagkabau ), rempah –
rempah ( dari Maluku ). Bahan impornya seperti kain dari Koromendal
( india ), porselin dan sutera (
dari Jepang dan Cina ), minyak wangi ( dari Eropa dan Timur Tengah ). Kapal –
kapal Aceh aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai Laut Merah.
d. Kehidupan Sosial
Meningkatnya kekmakuran telah
mneyebabkan berkembangnya sisitem feodalisme & ajaran agama Islam di Aceh.
Kaum bangsawan yg memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil disebut golongan
Teuku, sedabg kaum ulama yg memegang peranan penting dlm agama disebut golongan
Teungku.Namun antara kedua golongan masyarakat itu sering terjadi persaingan yg
kemudian melemahkan aceh. Sejak berkuasanya kerajaan Perlak ( abad ke-12 M s/d
ke-13 M ) telah terjadi permusuhan antara aliran Syiah dgn Sunnah Wal Jamma’ah.
Tetapi pd masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda aliran Syiah memperoleh
perlindungan & berkembang sampai di daera – daerah kekuasaan Aceh.
Aliran ini di ajarkan oleh Hamzah
Fasnsuri yg di teruskan oleh muridnya yg bernama Syamsudin Pasai. Sesudah
Sultan Iskandar Mud wafat, aliran Sunnah wal Jama’ah mengembangkan islam
beraliran Sunnah wal Jama’ah, ia juga menulis buku sejarah Aceh yg berjudul
Bustanussalatin ( taman raja – raja dan berisi adat – istiadat Aceh besrta
ajarn agama Islam )
e. Kehidupan Budaya
Kejayaan yg dialami oleh kerajaan Aceh
tsb tidak banyak diketahui dlm bidang kebudayaan. Walupun ada perkembangan dlm
bidang kebudaaan, tetapi tdk sepesat perkembangan dalam ativitas perekonomian.
Peninggalan kebuadayaan yg terlihat nyata adala Masjid Baiturrahman.
Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh
*
Setelah Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1030, tdk ada raja – raja besar
yg mampu mengendalikan daerah Aceh yg demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar
Thani ( 1637 – 1641 ), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu
mulai terasa & terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
*
Timbulnya pertikaian yg terus menerus di Aceh aantara golongan bangsawan
( teuku ) dgn golongan utama ( teungku ) yg mengakibatkan melemahnya Kerajaan
Aceh. Antara golongan ulama sendiri prtikaian terjadi karena prbedaan aliran
dlmm agama ( aliran Syi’ah dan Sunnah wal Jama’ah )
*
Daerah kekuasaannya banyak yg melepaskan diri seperti Johor, Pahang,
Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara – negara itu menjadikan daerahnya sbg
negara merdeka kembali, kadang – kadang di bantu bangsa asing yg menginginkan keuntungan perdagangan
yg lebuh besar.
Kerajaan Aceh yg berkuasa selama
kurang lebih 4 abad, akhinya runtuh karena dikuasai oleh Belanda awal abad
ke-20.
2.3. MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM
DI SUMATERA SELATAN
Palembang adalah kota yang memiliki
letak geografis yang sangat strategis. Sejak masa kuno, Palembang menjadi
tempat singgah para pedagang yang berlayar di selat Malaka, baik yang akan
pergi ke negeri Cina dan daerah Asia Timur lainnya maupun yang akan melewati
jalur barat ke India dan negeri Arab serta terus melewati jalur
barat ke India dan negeri Arab serta terus ke Eropa. Dan selain pedagang, para
peziarah pun banyak menggunakan jalur ini. Persinggahan ini yang memungkinkan
terjadinya agama Islam mulai masuk ke Palembang (Sriwijaya pada waktu itu) atau
ke Sumatera Selatan.
Ada
sebuah catatan sejarah Cina yang ditulis oleh It’sing, ketika ia berlayar ke
India dan akan kembali ke negeri Cina dan tertahan di Palembang. Kemudian ia
membuat catatan tentang kota dan penduduknya. Ada dua tempat di tepi selat
Malaka pada permulaan abad ke– 7 M yang menjadi tempat singgah para musafir
yang beragama Islam dan diterima dengan baik oleh penguasa setempat yang belum
beragama Islam yaitu Palembang dan Keddah. Dengan demikian dapat disimpulkan,
pada permulaan abad ke- 7 M di Palembang sudah ada masyarakat Islam yang oleh
penguasa setempat (pada waktu itu Raja Sriwijaya) telah diterima dengan baik
dan dapat menjalankan ibadah menurut agama Islam.
Selain
itu, ada sumber yang menyebutkan bahwa telah ada hubungan yang erat antara
perdagangan yang diselenggarakan oleh kekhalifahan di Timur Tengah dengan
Sriwijaya. Yaitu dengan mempertimbangkan sejarah T’ang yang memberitakan adanya
utusan raja Ta-che (sebutan untuk Arab) ke Kalingga pada 674 M, dapatlah
dipastikan bahwa di Sumatera Selatan pun telah terjadi proses awal Islamisasi.
Apalagi T’ang menyebutkan telah adanya kampong Arab muslim di pantai Barat
Sumatera.[2][2]
Sesuai
dengan keterangan sejarah, masuknya Islam ke Indonesia tidak mengadakan invasi
militer dan agama, tetapi hanya melaui jalan perdagangan. System penyebaran
Islam yang tidak kenal misionaris dan tidak adanya system pemaksaan melalui
perang, melinkan hanya melaui perdagangan saja memungkinkan Sriwijaya sebagai
pusat kegiatan penyebaran agama Budha, dapat menerima kehadiran Islam di
wilayahnya.
Berdasarkan
sejarah, Sriwijaya terkenal memiliki kekuatan maritim yang tangguh. Walaupun
ada yang meragukan hal tersebut karena melihat kondisi maritime bangsa
Indonesia sekarang.
Oleh
karena itu, tidak menutup kemungkinan putra pribumi ikut berlayar bersama para
pedagang Islam ke pusat agama Islam yaitu mekkah. Dan tidak menutup kemungkinan
pula, putera pribumi mengadakan ekspedisi ke timur tengah untuk memperdalam
keilmuan agama Islam.
Sehingga
dapat disimpulkan, bahwa bangsa Indonesia tidak serta merta menunggu para
pedagang Islam baik itu dari bangsa Arab ataupun sekitarnya untuk mencari
tambahan pengetahuannya tentang ajaran agama Islam.
v KESULTANAN
PALEMBANG
Menurut
sejarah, islam masuk ke Palembang diperkirakan pada awal abad ke-1 H atau awal
abad ke-8 Masehi. Sepanjang abad ke-7 sampai abad ke-14 Masehi, Islam di kota
Palembang tumbuh dan berkembang pesat sehingga berdiri sebuah kerajaan islam
Kesultanan Palembang. Kesultanan Palembang Darussalam adalah suatu kerajaan
Islam di Indonesia yang berlokasi di sekitar kota Palembang, Sumatera
Selatansekarang. Kerajaan ini diproklamirkan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman
dari Jawa dan dihapuskan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 7 Oktober 1823.
Menurut
sumber yang saya dapat ada banyak pendapat tentang masuknya islam ke sumatra
bagian selatan :
1.
Pengaruh kekuasaan politik Islam dimasa itu, yaitu : Khulafaur Rasyidin 632-661
Masehi - Dinasti Umayyah 661-750 Masehi - Dinasti Abbasiyah 750-1268 Masehi -
Dinasti Umayyah di Spanyol 757-1492 Masehi - Dinasti Fatimah di Mesir 919-1171
Masehi
2.
Penguasaan jalan laut perdagangan oleh bangsa Arab jauh lebih maju dari bangsa
Barat. Saat itu bangsa Arab telah menguasai perjalanan laut dari Samudra India
yang mereka namakan Samudra Persia kala itu.
3. Islam
masuk didaerah Sriwijaya dapatlah dipastikan pada abad ke-7. Ini mengingat buku
sejarah Cina yang menyebutkan bahwa Dinasti T'ang yang memberitakannya utusan
Tache (sebutan untuk orang Arab) ke Kalingga pada tahun 674 Masehi. Karena
Sriwijaya sering dikunjungi pedagang Arab dalam jalur pelayaran, maka Islam
saat itu merupakan proses awal Islamisasi atau permulaan perkenalan dengan
Islam.
4. Seperti
dikisahkan oleh penulis Arab yaitu Ibnu Rusta (900 M), Sulaiman (850 M) dan Abu
Zaid (950 M), maka hubungan dagang antara Khalifah Abbasiyah (750 M - 1268 M)
dengan kerajaan Sriwijaya tetap berlangsung. Khusus untuk kawasan Sumatera
Selatan, masuknya Islam selain oleh Bangsa Arab pedagang utusan dari Dinasti
Umayyah (661 - 750 M) dan Dinasti Abbasiyah (750 - 1268 M) juga pedagang Sriwijaya
sendiri berlayar kenegara-negara Timur Tengah.
Pendapat
lainnya :
1. Drs. M.
Dien Majid dalam makalahnya berjudul "Selintas Tentang Keberadaan Islam
dibumi Sriwijaya" menulis :
Arya
Damar, seorang Adipati kerajaan Majapahit di Palembang, secara sembunyi-sembunyi
telah memeluk agama Islam, karena diajari oleh Raden Rachmat (Sunan Ampel)
ketika singgah di Palembang dari Champa yang akan meneruskan perjalanannya
kekerajaan Majapahit. Kemudian Arya Damar ini yang akhirnya dikenal dengan nama
Arya Dillah atau Abdullah, berguru dengan Sunan Ampel di Ampel Denta ketika
beliau sudah menetap disini. Dan ketika Arya Damar kembali ke Palembang, ia
selalu mengadakan hubungan dengan ulama-ulama Arab yang bermukim di Palembang.
2. Dr.
Taufik Abdullah dalam makalahnya yang berjudul "Beberapa aspek
perkembangan Islam di Sumatera Selatan"
menulis :
Van
Senenhoven pada tahun 1822 Masehi membawa 55 manuskrip Arab dan Melayu yang
ditulis sangat indah serta dijilid rapi yang merupakan kepunyaan Sultan Mahmud
Badaruddin. Raden Patah yang menurut tradisi historis adalah anak raja
Majapahit, Prabu Brawijaya dengan puteri Cina, dilahirkan dan berguru di
Palembang.
Maka
setidaknya sejak akhir abad ke-16 Palembang merupakan salah satu
"enclave" Islam terpenting atau bahkan Pusat Islam di bagian Selatan
Pulau Emas ini. Hal ini bukan saja karena reputasinya sebagai pusat perdagangan
yang banyak dikunjungi oleh pedagang Arab Islam pada abad-abad kejayaan
Kerajaan Sriwijaya, tetapi juga dibantu oleh kebesaran Malaka yang tidak pernah
melepaskan keterikatannya dengan Palembang sebagai tanah asal.
Kejadian
ini berarti peng-Islaman Palembang telah lebih lama daripada Minangkabau atau
pedalaman Jawa, bahkan jauh lebih dahulu dari Sulawesi Selatan (kerajaan Gowa
dan kerajaan Laikang).
Diceritakan
dalam buku sejarah "Sulu Mindanau" bahwa seorang Syarif yang bernama
Syarif Abubakar yang berasal dari Palembang, telah menyebarkan Islam ke Sulu
dan Mindanau, yang kemudian kawin dengan puteri setempat bernama Paramisuri.
3. Menurut
H. Rusdy Cosim B.A. dalam makalahnya yang berjudul "Sejarah Kerajaan
Palembang dan Perkembangan Hukum Islam"
mengemukakan :
Menukil
kisah pelayaran Sulaiman didalam bukunya Akhbar As Sind Wal Hino yang
diterjemahkan oleh R. Ramaudot, terbitan London 1733 Masehi, dinyatakan bahwa :
"Seribuza (Sriwijaya) telah dikunjungi oleh orang-orang Arab Muslim,
bahkan diantara mereka ini disamping mengadakan hubungan dagang juga
menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk dan malah ada yang akhirnya menetap
serta kawin dengan wanita setempat."
Ini
memberi keyakinan kepada kita bahwa dengan kutipan diatas bahwa agama Islam
telah masuk didaerah Sumatera Selatan pada masa kekuasaan Dapunta Hyang
Sriwijaya.
Selanjutnya
Rusdi Cosim B.A. juga menulis : Dimasa Sultan Muhammad Mansur, mencatat nama
ulama besar yaitu Sayid Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin
Muhammad yang lebih terkenal dengan sebutan Tuan Fakih Jalaluddin yang berjasa
dalam menyebarkan agama Islam didaerah Komering Ilir dan Komering Ulu
bersama-sama dengan ulama lainnya yaitu Sayid al-Idrus yang sekaligus merupakan
nenek moyang masyarakat dusun Adumanis.
Disamping
itu ada pula ulama-ulama dijaman Kesultanan, diantaranya : 1. Kyai Haji Kemas
Abdul Somad (K.H.K. Abdul Somad Falembani) 2. Kyai Haji Masagus Abdul Hamid bin
Masagus Mahmud (Kyai Marogan) dll.
4. Menurut
Salmad Aly didalam makalahnya yang berjudul "Sejarah Kesultanan
Palembang" [5] menulis:
Pada waktu
Gede Ing Suro mendirikan Kesultanan Palembang, agama Islam telah lama ada
dikawasan ini. Islam masuk Palembang kira-kira pada tahun 1440 M., dibawa oleh
Raden Rachmat (Sunan Ampel). Pada waktu itu Palembang berada dibawah
kepemimpinan Arya Damar dan merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit.
Mengenai
Raden Rachmat ini, diceritakan oleh Arnold sebagai berikut : "Salah
seorang puteri raja Campa, sebuah negara kecil di Kamboja, di Timur Teluk Siam,
kawin dengan seorang Arab yang datang ke Campa untuk tugas dakwah Islam. Dari
perkawinan ini lahir Raden Rachmat yang diasuh dan dididik oleh ayahnya menjadi
seorang Islam sejati."
Selanjutnya,
Kyai Gede Ing Suro ini, menurut Faile, adalah turunan Panembahan Palembang dan
istrinya asal dari keluarga Sunan Ampel, ia adalah dari garis keturunan
Panembahan Parwata, Pangeran Kediri dan Pangeran Surabaya.
Sementara
dari sumber-sumber Palembang, diperoleh keterangan bahwa ia adalah putera
Sideng Laut, salah seorang turunan Pangeran Surabaya. Dia masih memiliki
hubungan silsilah dengan Sayidina Husein, putera dari Ali bin Abu Thalib,
sepupu dan menantu langsung dari Nabi Muhammad Saw dari puteri kandung beliau
Fatimah az-Zahra.
Salah
seorang cucu Sayidina Husein merantau ke Campa, memperistrikan salah seorang
puteri Campa yang kemudian melahirkan Maulana Ishaq dan Maulana Ibrahim.
Orang-orang
Arab pada masa ini terdaftar sekitar 500 Jiwa yang kebanyakan tinggal ditepi
sungai Musi, diantara mereka ada yang mendapat gelar dari Sultan, seperti
Pangeran Umar. Mereka sering membantu Sultan ketika dibutuhkan.
Pada waktu
Belanda menyerang Palembang tahun 1821 Masehi (dimasa pemerintahan Sultan
Mahmud Badaruddin II yang akhirnya diasingkan ke Ternate), benteng Sultan
dikepulauan Kemaro dan Plaju dipertahankan oleh orang-orang Arab. Hampir semua
meriam dikedua benteng ini dipegang oleh orang-orang Arab.
5. Drs.
Barmawie Umary didalam makalahnya "Masuknya Islam didaerah Ogan Komering
Ulu dan Komering Ilir" menulis :
Ada tiga
orang ulama yang paling berpengaruh didaerah Komering Ulu dan Komering Ilir :
1. Tuan Umar Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari/Raden Amar/Ratu Panembahan.
2. Tuan Tanjung Darus (Idrus) Salam 3. Tuan Dipulau/Said Hamimul Hamiem.
Ketiganya
dikenal dengan populer oleh masyarakat sebagai Waliullah pembawa agama Islam.
Keturunan seorang putera yaitu Raja Montik berputera Kyai Djaruan berputera
Tuan Penghulu I berputera Tuan Ketip Kulipah I berputera Tuan Ketip Kulipah II
yang berputera 2 orang; yaitu Tuan Penghulu II dan adiknya adalah Tuan
Labai/Kyai Labai Djamal.
Dan yang
membantu Tuan Umar Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari dalam menyiarkan Islam didaerah
ini adalah Tuan Raja Setan, Tuan Teraja Nyawa, Said Makhdum, Mataro Sungging,
Rio Kenten Bakau, Usang Puno Rajo, Usang Pulau Karam, Usang Dukunb dan
Kaharuddin Usang Lebih Baru Ketian.
Makam Tuan
Umar Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari adalah disebuah pulau diseberang
dusun Tanjung Atap dan Pulau ini termasyur dengan sebutan "Pulau Sayid
Umar Baginda Sari."
Agama
Islam mulai masuk dan disyiarkan didaerah Marga Madang Suku I oleh Tuan Umar
Baginda Saleh, yaitu putera tertua dari Sunan Gunung Jati Cirebon (Syarif
Hidayatullah), jadi kakak dari Sultan Hasanuddin Banten. Masuk didaerah ini
sekitar tahun 1575-1600 M dan yang bertempat tinggal didusun Mandayun, sesudah
itu menyiarkan agama Islam didaerah Tanjung Atap Ogan Komering Ilir sampai
wafatnya.
Didaerah
marga Semendawai Suku III, penyiar agama Islam adalah Tuan Tanjung Idrus Salam
atau disebut juga Sayid Ahmad dengan mengambil tempat kedudukan dusun Adumanis.
Ulama didaerah Semendawai Suku II dan Suku I sekitar tahun 1600 M adalah Tuan
Dipulau atau Sayid Hamimul Hamiem dengan mengambil didusun Negara Sakti.
Dimarga
Bengkulah, pembawa dan penyiar Islam adalah Moyang Tuan Syarif Ali dan Tuan
Murarob yang berasal dari Banten dan dibantu oleh Tuan Tanjung Idrus Salam.
Awal Mula
Pendirian Kesultanan Palembang
Berdasarkan
kisah Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan disebutkan seorang tokoh dari
Kediri yang bernama Arya Damar sebagai bupati Palembang turut serta menaklukan
Bali bersama dengan Gajah Mada Mahapatih Majapahit pada tahun 1343. Sejarawan
Prof. C.C. Berg menganggapnya identik dengan Adityawarman. Begitu juga dalam
Nagarakretagama, nama Palembang telah disebutkan sebagai daerah jajahan
Majapahit serta Gajah Mada dalam sumpahnya yang terdapat dalam Pararaton juga
telah menyebutkan Palembang sebagai sebuah kawasan yang akan ditaklukannya.
Selanjutnya
berdasarkan kronik Tiongkok nama Pa-lin-fong yang terdapat pada buku
Chu-fan-chi yang ditulis pada tahun 1178 oleh Chou-Ju-Kua dirujuk kepada
Palembang, dan kemudian sekitar tahun 1513, Tomé Pires seorang petualang dari
Portugis menyebutkan Palembang, telah dipimpin oleh seorang patih yang ditunjuk
dari Jawa yang kemudian dirujuk kepada kesultanan Demak serta turut serta
menyerang Malaka yang waktu itu telah dikuasai oleh Portugis. Kemudin pada
tahun 1596, Palembang juga ditaklukan oleh kesultanan Banten. Seterusnya nama
tokoh yang dirujuk memimpin kesultanan Palembang dari awal adalah Sri Susuhunan
Abdurrahman tahun 1659. Walau sejak tahun 1601 telah ada hubungan dengan VOC
dari yang mengaku Sultan Palembang.
Berikut
Daftar Keraton yang Berada di Palembang
Keraton
Kuto Gawang
keraton
kuto gawang - sejarah perkembangan islam di palembang
Pada awal
abad ke-17, Palembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang bernuansa Islam
dengan pendirinya Ki Gede ing Suro, bangsawan pelarian dari Kesultanan Demak
akibat kemelut politik setelah mangkatnya Sultan Trenggana. Keraton Kuta Gawang
adalah sebuah keraton yang setidaknya telah berdiri selama 100 tahun, sebelum
dibakar habis oleh VOC tahun 1659. Kuta Gawang berbentuk empat persegi,
dikelilingi kayu besi dan unglen empat persegi dengan ketebalan 30 x 30 cm.
Panjang dan lebar benteng ini berukuran 290 Rijnlandsche roede (1093 meter).
Tinggi dinding temboknya adalah 24 kaki, atau kurang lebih 7,25 meter.
Keraton
Beringin Janggut
Setelah
Keraton Kuto Gawang dihancurkan VOC tahun 1659, oleh Susuhunan Abdurrahman
pusat pemerintahan dipindahkan ke Beringin Janggut yang letaknya di sekitar
kawasan Mesjid Lama (Jl. Segaran).
Keraton
beringin janggut adalah salah satu Istana Kesultanan Palembang Darussalam dan
merupakan tempat tinggal Sultan-Sultan Palembang Darussalam (di zaman Sri
Paduka Susuhunan Abdurrahman) setelah Keraton Kuto Gawang dibakar pasukan VOC
dan sebelum dibuat Keraton Kuto Kecik / Lamo. Sekarang lokasi Istana Beringin
Janggut tersebut telah menjadi kawasan pertokoan. Lokasi asal dari Istana
Beringin Janggut ini terletak di Jalan Beringin Janggut Palembang.
Keraton
Kuto Tengkuruk
Benteng
Kuto Besak (BKB) dibangun untuk menggantikan keraton lama, Benteng Kuto Lamo,
yang disebut juga Keraton Kuto Tengkuruk atau Keraton Kuto Lamo, yang berlokasi
persis di samping kiri. Keraton Kuto Tengkuruk lalu menjadi rumah tinggal
residen Belanda. Saat ini, Keraton Kuto Tengkuruk difungsikan menjadi Museum
Sultan Mahmud Badaruddin II.
Kawasan
inti Keraton Kesultanan Palembang-Darussalam pada masa pemerintahan Sultan
Mahmud Badaruddin I luasnya sekitar 50 hektar dengan batas-batas di sebelah
utara Sungai Kapuran, di sebelah timur berbatasan dengan Sungai Tengkuruk.
Keraton
Kuto Besak
keraton
kuto besak - Sejarah masuk islam di palembang
Kuto Besak
adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan
Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud
Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan
pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang
memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang
tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam
perdagangan internasional, serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang
sebagai pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan, ia
pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak
sebagai nieuwe keraton alias keraton baru
Perang
Palembang 1821 dan dibubarkannya institusi Kesultanan pada 7 Oktober 1823,
bangunan Kuto Tengkuruk diratakan dengan tanah. Di atas runtuhan Kuto
Tengkuruk, atas perintah van Sevenhoven kemudian dibangun rumah Regeering
Commissaris yang sekarang menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Peperangan
dan Mundurnya Kesultanan Palembang
Pada tahun
1811, Sultan Mahmud Badaruddin II menyerang pos tentara Belanda yang berada di
Palembang, namun ia menolak bekerja sama dengan Inggris, sehingga Thomas
Stamford Bingley Raffles mengirimkan pasukan menyerang Palembang dan Sultan
Mahmud Badaruddin II terpaksa melarikan diri dari istana kerajaan, kemudian
Raffles mengangkat Sultan Ahmad Najamuddin II adik Sultan Mahmud Badaruddin II
sebagai raja. Pada tahun 1813 Sultan Mahmud Badaruddin II kembali mengambil
alih kerajaan namun satu bulan berikutnya diturunkan kembali oleh Raffles dan
mengangkat kembali Sultan Ahmad Najamuddin II, sehingga menyebabkan perpecahan
keluarga dalam kesultanan Palembang.
Pada tahun
1818 Belanda menuntut balas atas kekalahan mereka sebelumnya dan menyerang
Palembang serta berhasil menangkap Sultan Ahmad Najamuddin II dan
mengasingkannya ke Batavia. Namun Kesultanan Palembang kembali bangkit
melakukan perlawanan yang kemudian kembali dipimpin oleh Sultan Mahmud
Badaruddin II. Lalu pada tahun 1819, Sultan mendapat serangan dari pasukan
Hindia yang antara lain dikenal sebagai Perang Menteng (diambil dari kata
Mungtinghe). Pada tahun 1821 dengan kekuatan pasukan lebih dari 4000 tentara,
Belanda kembali menyerang Palembang dan berhasil menangkap Sultan Mahmud
Badaruddin II yang kemudian diasingkan ke Ternate. Kemudian pada tahun 1821
tampil Sultan Ahmad Najamuddin III anak Sultan Ahmad Najamuddin II sebagai raja
berikutnya, namun pada tahun 1823 Belanda menjadikan kesultanan Palembang
berada dibawah pengawasannya, sehingga kembali menimbulkan ketidakpuasan di kalangan
istana. Puncaknya pada tahun 1824 kembali pecah perang, namun dapat dengan
mudah dipatahkan oleh Belanda, pada tahun 1825 Sultan Ahmad Najamuddin III
menyerah kemudian diasingkan ke Banda Neira.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pelaku dan
cara masuknya islam disumatra-selatan tidak ubahnya seperti terjadi pada
wilayah Indonesia lainnya, dilakukan oleh putra Indonesia dan tidak berjalan
pasif. Dengan pengertian bangsa Indonesia tidak menunggu kedatangan bangsa Arab
semata dengan upayanya mencari tambahan pengetahuan tentang agama islam.
Khusus untuk Sumatra-selatan,
masuknya agama islam selain dilakukan oleh bangsa arab, pedagang utusan
kholifah Umayah (661-750) dan kholifah Abbasiyah (750-1268), juga perdagangan
dari Sriwijaya berlayar ketimur tengah. Hal yang demikian ini tidak
bertentangan, sekalipun Sriwijaya sebagai pusat pengembangan ajaran budha,
tetapi, karena watak Indonesia yang mempunyai kesanggupan yang tinggi dalam
menghormati perbedaan agama, maka, di wilayah kerajaan Sriwijaya di izinkan
masuknya agama islam melalui jalur perdagangan. Factor yang terakhir inilah
yang memungkinkan Sriwijaya menempuh Sistem pintu terbuka dalam menghadapi
kenyataan masuknya agama islam.
1 Comments
Baca Juga:
ReplyDeleteSejarah Hidup Abdurrahman bin Auf
Meneladani Sosok Sahabat Nabi Amr bin Ash
Riwayat Hidup Anas bin Malik
Umar bin Khattab Khalifah Pengganti Nabi Muhammad